Generasi milenial dianggap special karena memiliki perbedaan yang cukup tajam dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal teknologi. Generasi milenial memiliki ciri khas tersendiri, mereka lahir pada saat TV sudah berwarna, handphone semakin canggih, serta fasilitas internet yang sudah massif diperkenalkan, sehingga tidak heran jika generasi milenial ini sangat mahir dalam teknologi.
Berbeda dengan generasi jaman old (X), yang lahir disaat TV masih masih layar hitam putih, internet belum massif, handphone belum ada, dan kalaupun ada, handphone masih layar kuning (baca; senter-senter), semua masih serba terbatas, sehingga bisa kita lihat tidak sedikit generasi jaman old yang gaptek kan….? He…he…h…
Tapi saya kira bukan perbedaan-perbedaan itu yang hendak ditonjolkan melalui tulisan ini, sama sekali bukan. Melainkan, tulisan ini berupaya mengurai apakah tuduhan-tuduhan atas generasi milenial selama ini secara general bisa dibenarkan?
Ada beberapa hal yang seringkali disematkan kepada generasi milenial, diantaranya; generasi milenial dianggap cenderung tidak peduli terhadap keadaan social disekitar mereka, seperti dunia politik ataupun perkembangan politik-ekonomi yang terjadi di bangsa ini.
Kebanyakan generasi milenial hanya peduli dan membanggakan pola hidup kebebasan dan hedonisme, yang lebih banyak menghabiskan waktunya di kafé-kafé dan warung kopi, hanya untuk bermain game online, memamerkan HP baru, baju baru dan model rambut barunya.
Saya kira tidak, ada yang menarik dari generasi milenial, bahwa ditengah gempuran modernisme; perkembangan teknologi, dan mesin-mesin hasrat kota yang semakin massif, generasi milenial tidak hanya bisa berbicara mengenai tas baru, handphone baru, baju baru, game baru, aplikasi baru, tempat nongkrong baru, akan tetapi generasi milenial secara bersamaan berbicara mengenai isu-isu kerakyatan, perkembangan politik, berbicara mengenai korupsi yang semakin menggurita, masih bisa mengkritik keadaan negara.
Tentu, hal tersebut harus kita apresiasi, dan kita harus selalu optimis, bahwa tidak semua dan tidak melulu generasi milenial itu apatis dan menutup mata terhadap persoalan social-ekonomi-politik yang terjadi, kendatipun memang konteksnya berbeda, yang terkesan lebih elitis, diskusi di kafe-kafé, warung-warung kopi dan dimanjakan dengan segala fasilitas yang serba canggih.
Tapi apa hendak dikata, kenyataannya sudah seperti itu, Arus modernisasi tak terelakkan lagi, perubahan dan kemajuan terus terjadi. Dengan demikian, saya kira persoalannya sekarang bukan soal mereka nongkrong dimana, dimanjakan dengan fasilitas apa saja?
Tapi apakah semua itu membuat mereka menjadi tidak peduli? Faktanya tidak, mereka masih memiliki kepedulian, dan masih mau membincang masalah-masalah kerakyatan.
Memang, tidak semua kita bisa menerima begitu saja keadaan yang demikian itu, tidak semua orang terbiasa berdiskusi diwarung-warung kopi, ditempat-tempat mewah dan lain sebagainya, akan tetapi adakah diantara kita yang bisa terbebas dari kemajuan jaman? Adakah diantara kita yang sama sekali tak tersentuh dengan kecanggihan teknologi? Saya rasa jawabannya, tidak ada.
Jika kemudian, diantara kita ada yang berpendapat bahwa diskusi diwarung kopi, terkesan menjauhkan isu kerakyatan Itu juga salah,
intiny secangkir kopi kita bisa berpikir secara kritis bebas berekspresi dengan teman sejawat. Heheh…
Kita berharap diskusi diwarung kopi sambil menikmati secangkir kopi pahit kaum milenial menemukan dimensi sosialnya dan bisa memodifikasi tempranen generasi milenial untuk melakukan revolusi dinegeri ini.
Penulis : Hubertus Basri,S.Pd
Guru SMP Negeri 5 Kota Komba






