BPJS Kesehatan Bekerja Sama dengan UPTD RSUD Borong

Lenangneros.home.blog | Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, SH, M.Hum yang diwakili oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Matim Ir. Boni Hasudungan secara resmi meluncurkan kerja sama Badan Pelayanan Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan dengan Unit Pelayanan Tingkat Daerah (UPTD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Borong.
Peresmian kerja sama ini dilaksanakan di lantai dua  gedung rawat jalan RSUD Borong, yang berada di Lehong pada Kamis (9/12/21).

Bupati Matim Agas Andreas, SH, M.Hum dalam sambutannya yang disampaikan oleh Sekda Matim menyampaikan bahwa rumah sakit sebagai unit pelayanan publik yang menuntut para pelayan kesehatan untuk lebih proaktif dan mengutamakan kepuasan pasien demi terjaminnya pelayanan kesehatan untuk penduduk masyarakat Manggarai Timur.

Selama ini pelayanan kesehatan masyarakat Manggarai Timur dilakukan dimasing-masing puskesmas yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan. Sedangkan untuk pelayanan lanjutan dilakukan di rumah sakit rujukan lain seperti RSUD Bajawa, RSUD Ben Mboi dan rumah sakit Siloam Labuan Bajo, demikian disampaikan Sekda Boni.

“Selama ini UPTD RSUD Borong belum bekerja sama dengan pihak BPJS kesehatan. Hal ini kemudian yang menyebabkan masyarakat sebagai peserta BPJS Kesehatan dan membutuhkan perawatan kesehatan lanjutan kemudian dirujuk ke beberapa RS di  kabupaten tetangga.”

Mengingat kebutuhan masyarakat, Pemda Matim dalam hal ini manajemen RSUD Borong, Dinas Kesehatan Matim dan DPRD Matim berusaha mewujudkan komitmen untuk menyediakan fasilitas pelayanan rujukan, diantaranya ketersediaan dokter spesialis. Ketersediaan dokter sepesialis merupakan syarat mutlak untuk dapat bekerja sama dengan pihak BPJS Kesehatan.

“Seperti yang kita ketahui bersama, izin operasional RSUD Borong terbit pada bulan Juli 2020. Sedangkan perawatan pasien pertama kali mulai dilaksanakan pada bulan Agustus 2020. Menjadi tantangan tersendiri bagi Pemda agar pasien dari Matim tidak perlu dirujuk lagi ke RS Kabupaten tetangga. Karena itu pada kesempatan ini saya mewakili pemda dan masyarakat Matim mengucapkan terima kasih kepada dokter spesialis yang sudah hadir dan berkerja di RSUD Borong.”

Sekda Manggarai Timur menjelaskan bahwa, Pemda masih akan mengupayakan hadirnya beberapa dokter spesialis lain di RSUD Borong, diantaranya dokter sepesialis penyakit dalam dan dokter sepesialis anak. Selain itu juga akan dibangun gedung tambahan RSUD Borong secara perlahan-lahan.
RSUD Borong sudah memberikan pelayanan paripurna baik rawat inap, rawat jalan dan unit gawat darurat.

Direktur RSUD Borong dr. Emilia Yori Dorsi, pada kesempatan ini juga mengatakan bahwa kerja sama RSUD Borong bersama BPJS Kesehatan sudah melalui berbagai tahapan dan proses meskipun ada sejumlah kendala yang dihadapi pihak RSUD di tengah pandemi.
dr. Yori juga mengharapkan kritik, saran dan masukan dari semua pihak terhadap pelayanan yang diberikan oleh RSUD Borong, sehingga pihak RSUD dapat memperbaiki layanan dan memberikan yang terbaik.

Pimpinan BPJS Kabupaten Manggarai Timur, Mariani Vianey Sebatu, dalam kesempatan itu, menyampaikan selamat kepada Pemda Manggarai Timur atas berdirinya RSUD Borong

“Masih ada beberapa poin komitmen yang harus dipenuhi oleh RSUD Borong dalam kerjasama ini, diantaranya masih dibutuhkan 2 dokter spesialis yakni spesialis anak dan penyakit dalam. Selain itu saat ini RSUD Borong juga belum memiliki sistem informasi manajemen rumah sakit, Ini penting diadakan untuk efektifitas perekaman data sehingga bisa terkoneksi dengan sistem dari BPJS kesehatan. Selain itu ketersediaan jaringan internet yang bagus, harus ada ketersedian kamar bersalin, ruangan penanggulangan kebakaran, sistem tata udara dan ruangan pemulasaraan jenazah juga perlu disediakan di RSUD Borong.”

Selain komiten tersebut, kata Mariani, pihaknya berharap Pemda Manggarai Timur dapat menambah jumlah peserta BPJS Kesehatan atau JKN-KIS; berdasarkan data pihak BPJS masih ada sekitar 53.395 masyarakat Matim yang belum memiliki kartu BPJS.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Tim dari Perwakilan BPKP Provinsi NTT; Al Buchori dan Ignatius Pindha, Kepala BPJS Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur Mariani Vianey Sebatu, Sekretaris Dinas Kesehatan Matim Pranata Kristiani Agas, Direktur RSUD Borong dr. Emilia H.Y. Dorsi, para dr. spesialis, para bidan dan perawat yang bekerja di RSUD Borong.
(ProkopimMatim)

Istilah “Wagal” Dalam Budaya Manggarai

Acara Wagal, Lokasi wae waru,Desa Golo Mangung,LAUT

Lenangneros.home.blog | Dalam sistem adat manggarai, ada beberapa urutan upacara sebelum upacara yang terakhir yaitu “Wagal”.

Adapun beberapa urutan sebelum tiba pada acara wagal yaitu :
1. tuke mbaru yang artinya (tuke: naik mbaru: rumah) masuk rumah sang pengantin wanita.

2. Paluk Kila (palauk: tukar kila: cincin) tukar cincin, ini dilakukan saat peminangan awal yang disaksikan oleh kedua belah pihak keluarga laki- laki dan wanita.

3. Pongo (ikaat mengikat) cinta dari kedua pasangan agar saling menjaga cinta satu sama lain, ini dilakukan saat paluk kila /tukar cincin juga.

Wagal adalah upacara yang puncak atau yang terakhir dari semua upacara adat manggarai. Wagal merupakan pengukuhan perkawinan yang sah secara adat manggarai.

Dalam acara yang terakhir inilah seng paca (seng: uang paca: Belis/ mahar) diserahkan kepada pihak keluarga perempuan sesuai jumlah yang telah disepakati serta diserahkan juga binatang, misalnya Kerbau bisa juga ditangguhkan pake uang jika tidak ada binatangnya.
Kemudian pada saat selesai makan biasanya pihak keluarga perempuan memberikan “Tuak Gatang” sebagai tanda Kebersamaan dalam dinamika adat manggarai,setelah acara adat ini semua dilaksanakan,maka acara yang terakhir adalah acara podo

 Menurut Walby (2014: 28), “menyatakan bahwa patriarki adalah sebuah sistem struktur sosial dan praktik-praktik yang memosisikan laki-laki sebagai pihak yang mendominasi, menindas dan mengeksploitasi kaum perempuan”.

Adapun macam-  macam uang yang disetor oleh pihak laki- laki yaitu : Seng Paca ata poli pongo (uang belis berdasarkan hasil kesepakatan antara kedua bela pihak antara keluarga perempuan dan keluarga laki-laki),seng wae susu de ende (seng:uang wae: air de ende: ibunya) uang untuk air susu ibu atau uang untuk balas budi ibunya. Adapun uang yang dibagikan kepada banyak orang khususnya kepada bapak- bapak yang duduk disitu. Namanya seng lonto/ seng wali (seng: uang lonto: duduk) uang duduk, jumlahnya bisa sampai Rp 100 dan minimal Rp 50. 

     Padahal mereka hanya duduk sambil tertawa, menikmati kopi dan kue yang dihidangkan oleh ibu- ibu yang super sibuk di dapur. Mirisnya ibu- ibu di dapur hanya dapat uang sedikit saja. Istilanya seng koso nomber (seng: uang koso: usap/ mengusap nolak: keringat) uang untuk mengusap keringat, atau uang untuk tanda terima kasih karena telah membantu. Jumlah uangnya bervariasi mulai dari Rp 20,000- Rp 50,000

perbandingan sangat jauh yang diterima oleh bapak- bapak yang duduk manis sambil menikmati yang manis- manis. Hal itu yang saya sebut sebagai patriarki dalam acara wagal, dan kemungkinan besar itu sulit untuk diubah.

Catatan: Penulis saat mengikuti acara Wagal,di wae Waru,Desa Golo Mangung,Kecamatan Lamba Leda Utara (LAUT)

Tempat Wisata Rohani “Gua Maria Cingcoleng “

Monika Adul,salah satu pengunjung yang berasal dari kec.Kota Komba utara

Lenangneros home.blog || Salah satu tempat wisata Rohani yang selalu terngiang ditelinga kita selama ini adalah “Gua Maria Cingcoleng”,Gua Maria  Cingcoleng berada di kampung Ketang, Desa Tengku Leda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur,Flores,NTT

Berdasarkan wilayah adiministrasi gereja katolik, Gua Maria Cingcoleng ini terletak di paroki Benteng Jawa, Kevikepan Borong, Keuskupan Ruteng.

Gua Maria Cingcoleng

Gua Maria Cingcoleng sangat indah dipandang mata,dengan melihat Guanya saja semua pengunjung pasti merasa betah berjam-jam untuk selalu mengamatinya dengan hati yang sangat bahagia.

Monika Adul,salah satu pengunjung berasal dari kota Komba Utara,rela datang ketempat ini hanya mau melihat secara langsung tempat wisata Rohani Gua Maria Cingcoleng.

“Betapa bahagianya saya,begitu melihat langsung Tempat Gua Maria Cingcoleng ini,ternyata sangat bagus sekali,apalagi Gua ini sangat alami”,tuturnya

“Selama ini saya hanya mendengar ceritanya orang kalau Gua Maria Cingcoleng ini sangat bagus,hari ini saya melihat langsung ternyata tempatnya sangat menarik sekali “,Lanjut Inak Sapaanya

“Gua ini sangat bagus kalau ditata dengan rapi,karna saya melihat secara langsung gua Maria Cingcoleng ini kurang perhatian baik dari pemerintah setempat maupun dari pihak paroki,dimana sekitar gua Maria Cingcoleng ini,dibiarkan begitu saja oleh pemerintah setempat untuk mengikat kerbau milik warga, padahal ini adalah salah satu Tempat wisata Rohani yang ada di kabupaten Manggarai timur”,Keluhnya.

Dia mengharapkan kepada pemerintah setempat untuk tetap memperhatikan atau menjaga  Gua Maria Cingcoleng  ini dengan baik.

Bagi saudaraku yang suka dengan wisata rohani,silakan datang ke Gua Maria Cingcoleng,Gua cincoleng ini sangat baik kalau kita melihatnya secara langsung.apalagi kalau kita datang bersama keluarga tercinta.tutupnya

(Hubertus Basri)

Songke Lamba Leda

Pidik (Proses pemintalan kain tenun ikat songke) foto: Agus

Lenangneros.home.Blog || Nae/Lipa/Dewo Songke, itulah masing-masing orang menyebutnya Tenun ikat Songke di Tanah Nuca Lale

Berbicara tenun ikat Songke,penulis hanya mengulas tentang Nae/Lipa Songke Lamba Leda.

Sebelum Pandemi Covid-19 banyak sekali konsumen di tanah cuca lale ini,selalu membicarakan tentang Songke Lambaleda,bahkan kaum konglomerat,para Guru,pemda Matim sampai masyarakat biasa pun yang ada di tanah Manggarai selalu memesan kepada pengerajin tenun ikat Songke,mereka memesan kain songke hanya untuk membuat pakain dari kain ikat songke tersebut.

Warna Dasar
Warna dasar benang yang dipakai dalam tenun ikat songke adalah hitam,yang bagi orang manggarai warna hitam melambangkan arti kebesaran dan keagungan serta kepasrahan bahwa semua manusia pada suatu saat akan kembali kepada Mori Kraeng (Sang Pencipta),Sedangkan warna benang untuk sulam umumnya warna-warna yang mencolok seperti merah, putih, orange, dan kuning.

Motif yang dipakai pun tidak sembarang. Setiap motif mengandung arti dan harapan dari orang Manggarai dalam hal kesejahteraan hidup, kesehatan, dan hubungan, baik antara manusia dan sesamanya, manusia dengan alam maupun manusia dengan Sang Pencipta.

Motif songke Lamba Leda/foto: Agus

Motif

Berikut beberapa motif yang sering dipakai dalam penenunan kain songke dan maknanya:

Motif wela kawu (bunga kapuk), bermakna keterkaitan antara manusia dengan alam sekitarnya.

Motif ranggong (laba-laba), bersimbol kejujuran dan kerja keras.

Motif ntala (bintang), berkaitan dengan harapan yang sering dikumandangkan dalam tudak, doa “porong langkas haeng ntala” supaya senantiasa tinggi sampai ke bintang. Maksudnya, agar senantiasa sehat, diberikan umur yang panjang, dan memiliki ketinggian pengaruh lebih dari orang lain dalam hal membawa perubahan dalam hidup.

Motif wela runu (bunga runu), yang melambangkan bahwa orang Manggarai bagaikan bunga kecil tapi memberikan keindahan dan hidup di tengah-tengah kefanaan ini.

Peralatan Menenun

Alat-alat yang digunakan untuk menenun songke adalah sebagai berikut:

Lihur, kayu yang diletakan di bagian belakang pinggang sebagai penahan beban.

Pesa, kayu yang dipasangkan antara berang dan lihur yang letaknya di bagian perut. Alat ini berpasangan dengan lihur yang dihungkan dengan tali (wase) sebagai pengait/pengikat. Alat ini dipakai untuk penampung kain yang sudah jadi atau sudah ditenun.

Mbira, sebagai pengancing benang yang dimasukan dari kiri atau kekanan juga untuk mengancing benang sulam motif dengan cara ditarik sebanyak 1 atau 2 kali ke arah perut.

Keropong, bambu berukuran kecil tempat diletakannya kelirik atau lebih cocoknya disebut sebagai rumah kelirik,agar ketika dimasukan diatara celah-celah benang berang, klirik tidak tersangkut. Kelirik adalah kayu kecil berukuran sekitar 40 cm yang dililitkan benang yang dipakai sebagai pengunci benang sulam/ikat yang dimasukan dari kiri ke kanan.

Proses Pembuatan benang (Lawe) Songke

Pohon kapas yang sengaja ditanam untuk keperluan sehari-hari membuat sumbu pada lampu pelita, untuk dijadikan benang jahit atau benang tenun setelah diproses secara tradisional. Kemudian kapas yang sudah dipisahkan,  dijemur hingga benar-benar kering dan siap untuk dipintal.

Proses pemintalan menggunakan alat pemintal tradisional yang oleh orang Manggarai menyebutnya janta (Alat pemintal Kapas) kemudian dililitkan pada ujung atas kayu kecil, lalu  diputarkan sehingga benang seperti dipintal, sambil jari tangan sebelah kiri menyambung kapas-kapas yang terpisah. Proses ini akan mengubah menjadi benang.

Benang masih harus diwarnai sesuai kebutuhan (lazimnya warna hitam) menggunakan pewarna alami terbuat dari pohon nila dan arang. Setelah diwarnai, benang dikeringkan. Jika benang hendak dipakai sebagai benang jahit maka benang hasil pintalan harus terlebih dahulu dilicinkan dengan dengan liling (rumah lebah penghasil madu yang sudah dikeringkan kemudian dipadatkan). Caranya, benang ditempelkan atau ditekan dengan jari pada liling kemudian benang ditarik sehingga setiap serat benang menyatu. Akan tetapi, jika benang dipakai untuk menenun sehelai kain, maka langkah tadi dilewatkan.

Setelah benang mencukupi kebutuhan penenunan kain songke, benang kemudian dibuat menjadi mal kain dengan alat tradisiona yaitu Pidik  Untuk memulai membentuk mal songke dibutuhkan 2 orang perempuan untuk duduk di dalam mal, lalu benang diikatkan pada kayu yang dijadikan lebar, apakah mulainya dari samping kiri atau kanan tergantung kelincahan dari yang mengerjakan. Keduanya berbagi tugas baik memberi maupun menerima benang. Benang yang diterima lalu dikaitkkan pada kayu lalu diberikan lagi kepada si pemberi. Begitu terus, hingga ukuran yang diinginkan terpenuhi.

Pidik

Setelah “Pidik” selesai, mal kain songke dipidahkan ke alat tenun tradisional. Ketika proses ini sudah dilakukan, maka aktivitas selanjutnya adalah menenun  hingga menjadi sehelai kain songke.

Proses ini membutuhkan waktu yang lama  sekitar berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan tergantung pada ketersediaan benang, banyaknya motif yang digunakan dan kemahiran si penenun songke.

Kain tenun Songke merupakan kain tenun khas daerah manggarai, kain tenun songke juga biasa di sebut Nae,lipa,towe, Bahakan di daerah kotakomba disebut Dewo.

Karena nilai estetis dan terapannya sangat tinggi, modal yang dikeluarkan untuk membeli kain yang satu ini pun sangat fantastis. Kembali lagi pada masalah ukuran, tingkat kesulitan penganyaman motif, dan lamanya proses penenunan. Harga songke yang ditawarkan berkisar antara 800,000-1.500,00

Towe songke Lamba Leda/foto : Agus

Nae,Lipa,Towe atau Dewo dalam bahasa setempat di kenakan oleh laki – laki dan perempuan, baik di rumah maupun saat menghadiri ritual adat, ke gereja, ketika mandi dan tidur, saat kelahiran dan pernikahan, dan untuk membungkus orang yang telah meninggal.

Sedangkan warna benang untuk sulam umumnya warna-warna yang mencolok seperti merah, putih, orange, dan kuning.

Motif yang dipakai pun tidak sembarang. Setiap motif mengandung arti dan harapan dari orang Manggarai dalam hal kesejahteraan hidup, kesehatan, dan hubungan, baik antara manusia dan sesamanya, manusia dengan alam maupun manusia dengan Sang Pencipta.

Dikutip dari Media online Terasnkri.com,di kecamatan Lamba Leda Utara sudah ada galeri Khusus dan Tempat yang dinamai “GalIery Songke Lamba Leda Utara” itu resmi dibuka,  Kamis 02/09/2021, di Loby depan Kantor Kecamatan LAUT di Dampek, Desa Satar Padut. 

Akses mudah dijangkau,  harga distributor, pilihan songke berbagai corak semuanya tersedia.  Mulai dari topi,  selendang,  sarung,  hingga kain untuk jas atau baju motif songke Lamba Leda, lengkap disediakan.

Camat LAUT,  Agus Supratman, Kepada Media usai acara seremonial pembukaan Gallery Songke Lamba Leda Utara,  mengatakan, hal itu dilakukan semata mata untuk menjawab kebutuhan perajin tenun akan hasil produksi tenun milik warga yang sulit dipasarkan.

“Kami bantu penenun,  untuk pasarkan hasil produksi mereka melalui gallery ini.  Tidak sebatas buka galery untuk tempat promosi,  kami juga bantu cari pasar dalam jumlah besar dengan jaminan harga distributor untuk semua jenis produk tenunan atau karya seni tenun milik warga”, ucap Agus.

foto Mode iklan songke Lamba Leda

Agus mejelaskan,  pihaknya tidak berbisnis dengan warganya sendiri,  namun pihaknya hendak mengajarkan warga untuk berbisnis. 

“Jangan dianggap kami sedang berbisnis dengan warga kami sendiri.  Nanti salah paham dan salah tafsir soal kata bisnis ini.  Disini kami mengajarkan warga untuk berbisnis. Karena warga sendiri yang tentukan harga,  kami hanya sebatas menyediakan tempat, pola alur serta administrasi bisnisnya, agar terarah dan berdaya saing”, jelas Agus. 

Agus berharap,  pihak pihak yang memiliki akses pasar tenun ikat untuk bekerjasama dengan pihak Gallery Songke Lamba Leda Utara.
















Penulis: Hubertus Basri
Catatan: Mohon maaf kalau ulasanya tidak sempurna.

Kisah Gendang Loke Nggerang di Manggarai

Sumber: Akun FB sejarah Manggarai

Gambar Gendang Loke Nggerang

Lenangneros.home.blog || Cerita Lisan Merupakan Sebuah Cerita yang diturunkan secara turun – temurun dari mulut ke mulut dan kebenarannyapun masih diragukan karena tidak mempunya bukti tertulis.

Di Manggarai, FLores NTT. terkenal sekali cerita lisan tentang Kisah Loke Nggerang yang berasal dari Todo.

Loke Nggerang itu merupakan suatu cerita yang boleh dikatakan nyata karena mempunyai bukti sejarah berupa selaput genderang.

Selaput genderang ini terbuat dari kulit manusia yang hingga kini masih tersimpan di “Mbaru Gendang” atau
rumah adat di Kampung Todo Kecamatan Satar Mese Barat Kabupaten Manggarai.

Begitu banyak sumber cerita lisan dari tokoh adat di kampung ini mengatakan tentang kisah dari Loke Nggerang,

Berdasarkan cerita yang diwariskan dari orang tua mereka terdahulu, selaput genderang tersebut diyakini merupakan kulit seorang gadis cantik dengan kulit kemerah-merahan hingga ia dipanggil masyrakat pada zaman itu “Loke Nggerang”
“Loke” artinya kulit dan “Nggerang” artinya kulit kemerah-merahan.

Karena cantik dan indah kulit sang gadis, ia ingin dipinang sang raja Todo yang kala itu merupakan penguasa bumi “Nuca Lale” (Nama asli Manggarai) .Namun lantaran cinta akan kekasih dan orang tuanya ia berani dengan kemauan keras menolak pinangan raja. Ini tentu beresiko latantaran saat itu raja mempunyai kekuasaan penuh atas Manggarai Raya (Manggarai,Manggarai Barat,dan Manggarai Timur). Siapapun yang menolak perintah raja pasti akan menerima hukuman berat.

Loke Nggerang pun kemudian dihukum mati karena menolak kemauan sang raja. Kulit dari punggung dan perut Loke Nggerang kemudian dijadikan gendang.

Gendang Loke nggerang

Siapakah Loke Ngerang? Berbagai versi terkait kisah hidup Loke Nggerang dari sumber tokoh adat menceritakan bahwa Loke Nggerang merupakan anak dari seorang istri raja bima yg ketika dalam kandungan, sang ibu membawanya ke Manggarai dan menjadi seorang petani di kampung Ndoso Kecamatan Golo Welu Kabupaten Manggarai Barat.

Diceritakan masyarakat Todo, konon kulit yang tersisa hanya kulit genderang bagian perut yang sekarang masih berada di “rumah Gendang” Kampung Todo Pu,u (pusat kampung Todo).

Sementara kulit punggung sudah dilalap si jago merah karena ikut terbakar bersama “Rumah Gendang” Todo Pongkor yang juga merupakan salah satu rumah adat perkembangan dari rumah adat Kampung Todo.

Sampai dengan sekarang Genderang si putri cantik Loke Nggerang masih tersimpan di Gendang atau rumah adat di Kampung Todo.
wisatawan datang melihat gendang tersebut dengan melakukan ritus adat terlebih dahulu baru diperbolehkan Gendang tersebut diambil dari tempat penyimpananya dan dipertontonkan bagi wisatawan.
(Sumber : akun FB Sejarah Manggarai)

“Ucapan Malam Romantis Untukmu”

Foto ilustrasi penulis

Lenangneros,home.blog ||Sebelum beristirahat panjang di malam hari, mengirim Ucapan selamat malam romantis kepada kekasih hati mungkin bisa menjadi satu di antara rutinitas menyenangkan yang bisa dilakukan.

Saat kasmaran, sepasang kekasih tentu ingin selalu bersama. Namun, sebelum bersatu dalam rumah tangga, kekasih yang dimabuk asmara harus rela berpisah.

ucapan selamat malam bisa menjadi pengantar tidur agar istirahat si dia bisa nyenyak, bermimpi indah, serta pesan untuk esok hari bertemu dalam suasana yang lebih baik.

Ada banyak ucapan selamat malam yang bisa kamu kirimkan kepada sia dia, termasuk ucapan selamat malam romantis. Dengan ucapan ini, kamu bisa menyampaikan perasaanmu kepadanya sebelum mengakhiri hari.

Kamu bisa menggunakan ucapan selamat malam romantis di bawah ini sebagai referensi agar si dia beristirahat malam dengan senyum mengembang serta perasaan penuh cinta.

inilah bahasa cinta sebelum tidur:
1.”Memikirkanmu sebelum aku tidur selalu membuatku merasa lebih baik, dan aku berharap pikiran tentang aku memiliki efek yang sama padamu juga! Selamat malam.”

2. “Semoga tempat tidur dan bantalmu memelukmu seolah-olah kamu sedang tidur di awan yang terdiri dari napas cintaku.”

3. “Bahkan dalam kegelapan, kecantikan luar biasamu masih menyinari ruangan. Selamat malam, Sayang.”

4. “Semoga malammu diberkahi oleh mimpi indah, yang meramalkan hari-hari indah yang akan datang dalam hubungan kita!”

5. “Saya berharap malam ini memberimu kedamaian, kekayaan dan kegembiraan yang diberikan cinta padamu.”

6. “Kata-kata alam semesta tidak cukup untuk memberi tahumu betapa hatiku mencintai seluruh keberadaanmu. Selamat malam, cintaku yang berharga.”

7. “Semoga malammu semanis gula alami yang menutupi bibirmu.”

8. “Sayang, harimu sudah luar biasa, tapi semoga malammu menjadi lebih luar biasa.”

Neka rabo,kesep ata toko Wie

Hubert Basri

Sejarah Wae Rebo

Sumber : Akun FB sejarah Manggarai

Kampung wae Rebo

Lenangneros.home.blog ||Kampung adat Wae Rebo, Berlokasi di Desa Satarlenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kampung  adat Wae Rebo di Gunung Pocoroko, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, adalah primadona baru. Setelah mendapat anugerah Award of Excellence dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO kawasan Asia Pasifik, kampung ini tak pernah sepi.

Para wisatawan berlomba membuktikan keagungan mahakarya budaya bangsa Indonesia dan menimba kearifan hidup masyarakat Wae Rebo.

Kampung Wae Rebo terletak sekitar 1.100 meter dari permukaan laut, masuk wilayah Desa Satarlenda, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai, NTT.

Wae Rebo ”ditemukan” pertama kali tahun 1997 oleh antropolog Belanda, Catherine Allerton. Allerton mencari Wae Rebo untuk sebuah penelitian.

Tahun 2008, jejak Allerton diikuti arsitek Yori Antar. Yori berkunjung ke Wae Rebo dan menginisiasi pembangunan rumah adat yang saat itu rusak. Dana pembangunan digalang antara lain dari Yayasan Tirto Utomo, pengusaha Arifin Panigoro, dan Laksamana Soekardi.

Proses pembangunan rumah adat didokumentasikan sehingga warga menguasai kemampuan membangun rumah yang disebut mbaru niang. Upaya konservasi itu membuahkan Award of Excellence UNESCO dan melejitkan Wae Rebo ke dunia.

Dari tujuh rumah adat di Wae Rebo, saat ini tersisa dua rumah yang belum direvitalisasi. Dalam waktu dekat, kedua rumah akan direvitalisasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dana yang dianggarkan Rp 500 juta.

Saat ini, wisatawan baik lokal maupun asing telah berkunjung ke Wae Rebo. Wisatawan asing terbanyak dari Belanda, Perancis, dan Amerika Serikat. Wisatawan lokal selain dari NTT, datang dari Surabaya dan Jakarta.

Kampung wae Rebo

Untuk menuju Wae Rebo, perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki selama 4,5 jam.

Sumber : akun FB Sejarah Manggarai

Pahlawan Motang Rua Punya Keturunan di Saigon

Sumber : akun FB Sejarah Manggarai

Motang Rua
Pahlawan Manggarai


Lenangneros.home.blog || Lima tahun Motang Rua terkurung dalam penjara di Camplong dengan terus mengalami penyiksaan. Setelah lima tahun ditawan di Camplong, Motang Rua dibuang  ke Serambih Mekahdi Banda Aceh. Lima tahun juga dia berada dalam penjara koloni Belanda.

Karena memiliki ilmu kebal yang sangat ampuh, dia tidak berhasil dieksekusi tentara Belanda. Selama lima tahun di Aceh,  dia disiksa dan dipaksa bekerja rodi menggali tambang di bawah tanah untuk tempat persembunyian tentara Belanda.

Setelah beberapa tahun berada di Aceh, dia pun dibawah lagi ke tepat perasingan paling tenar di Indonesia yaitu di Nusa Kembangan yang sekarang dikenal dengan Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan.

Di Nusa Kambangan, dia menjalani  hukuman seperti tawanan lainnya. Pemimpin Beo Kina yang dikenal gagah, pemberani dan kuat tersebut juga diperlakukan yang sama seperti tawanan lainnya.

“Beberapa tawanan lainnya sekampung dengan Motang Rua yakni dari Beo Kina dikirim kembali ke Beo Kina,  sementara Guru Ame Numpu sama sekali tidak ada kabar tentang keberadaanya saat itu,” tutur Philipus dan berhenti sesaat karena terlihat sangat sedih menceritakan soal kehidupan ayahnya yang gagah perkasa itu.

Motang Rua malah dianggap sebagai salah satu tawanan yang masuk dalam kategori tawanan kelas berat, maka dia akhirnya dibuang lahi hingga Saigon. Dan pada akhirnya selama 27 tahun dia meninggalkan kampung halamanya Beo Kina Kecamatan Rahong Utara Kabupaten Manggarai.

Motang Rua tetap tegas menghadapi kenyataan hidupnya sebagai seorang tawanan Belanda. Dia tetap ulet bekerja sesuai perintah. Karena keuletanya bekerja sebagai tawanan Belanda dia pun diperbolehkan  memperistri  seorang anak tentara erpangkat Letnan di Saigon. Hasil perkawinan itu mereka   dikarunia tiga orang anak yakni dua putri dan satu putra.

“Ketiga anak Motang Tua di Saigon itu pernah datang di Kampung ini. Sulung bernama Nona Koe sudah menjadi dokter di Belanda, anak kedua  dan ketiga laki laki dan tetap menggunakan nama Motang Rua,” katanya.

Kemudian karena  dia ulet memlihara peternakan bebek dan ayam milik letnan di Saigon, dia diizinkan Belanda untuk kembali ke kampung halamanya. Lantaran terlalu gembira untuk pulang kampung, dia  lupa pamit dengan istri kedua yang lagi mengandung anak ketiga. Dia berangkat menuju Aceh bersama pasukan tentara Belanda.

“Ketika tiba di Aceh dia dikejutkan dengan berita kelahiran anak ketiga di Saigon, dan diminta untuk segera memberikan nama anak putra  tersebut. Anak tersebut dieri nama Motang Rua dengan nama panggilan Guru agar kelak keturunananya dikenang di Saigon. Saya ingat waktu saya masih kecil, putri sulung Nona Koe bekerja  sebagai seorang dokter,” katannya.


Philipus bersama keluarga merasa amat sangat bangga karena ketiga saudara berdarah Belanda pernah mengunjungi kampung halamanya Beo Kina 60an tahun lalu ketika dia masih SD.


Philipus kemudian melanjutkan kisahnya, dari Aceh Motang Rua dengan naik kapal milik Belanda menuju Kupang dari kupang menuju Ende. Dari Ende, bersama tentara Belanda yang ditugaskan ke Manggarai, Motang Rua diturunkan di Pelabuhan Borong ibu kota Kabupaten Manggara Timur dan bertemu dan mengawasi para pekerja rodi rakyat Manggarai yang sedang bekerja menggali jalan Ruteng –Borong . Para pekerja itu sama sekali tidak mengenal Motang Rua sebagai saudara mereka sendiri.


“Dengan penampilan yang berbeda, ayah kami tetap rendah hati dan mengatakan bahwa dia adalah guru Ame Numpu Si Pebangkan Tentara Belanda,” jelasnya.


Kabar mulutpun tiba di Kampung halamanya di Beo Kina bahwa Motang Rua segera tia di Beo Kina. Warga desa menyambut  kabar itu dengan penuh suka cita. Mereka akhirnya menggelar ritual syukuran di kampung Beo Kina dengan ritual penyembelihan ‘’Kaba Rae’’ (Kerbau berbulu putih) sebagai bentuk penghargaan kembalinya pemipin kuat dan peberani yang bisa pelindungi warga Beo Kina.


Masyarakat Manggarai menyiapkan 4 Kaba Rae , 1 kerbau  dari ase kae keluarga Motang Rua, 1 kerbau dari Woe saudari Motang Rua, 1 Kerbau dari Anak Rona Paman Motang Rua dan 1 Kerbau dari Warga Kampung.
Ritual penyamutan kembalinya pahlawan mereka digelar dengan sangat meriah. Mereka mensyukuri bahwa orang kuat  warga desa mereka yang sekian tahun menghilang akhirnya kembali lagi ketengah-tengah mereka dan akan hidup bersama seperti sebelumnya.(*) (Hubertus Basri,S.Pd)


Sumber : Dari Pemilik akun Facebook Sejarah Manggarai
di posting tanggal 06/12/2018

Sahabat Itu Penting Dalam Dinamika Sosial

Ilustrasi Penulis

Lenangneros.home.blog || Setiap hubungan pertemanan tentu kita sering temukan yang namanya permasalahan di dalamnya. Bebagai problem terjadi dalam jalinan pertemanan, di antaranya adalah salah satu pihak merasa tidak dihargai, disakiti, dikecewakan dan lain sebagainya. Walaupun pada akhirnya satu sama lain bisa saling memaafkan. Namun ada pula yang berakhir putusnya sebuah persahabatan yang sudah dijalin lama.
Dalam perjalanan hidup ini , daftar teman yang kita miliki juga akan bertambah banyak. Hal yang bagus adalah jika kita mampu tetap menjalin pertemanan yang baik dengan teman lama maupun teman baru. Sejauh apapun jaraknya selalu ada celah untuk saling bertanya kabar, walaupun itu hanya via chat atau media sosial.

Sadar saat seorang teman sedang merasa terpuruk. Setiap saat teman kamu memiliki pacar baru merekan akan menjadi ‘budak cinta’ dan melupakan teman mereka. Berbeda dengan sahabatmu yang sebenarnya, mereka akan meminta perasaaan dan hubungan dalam segala kondisi.

Jangan pernah melupakan sahabat yang selalu menemani kita, apa lagi saat ada teman yang baru.

Teman baik, tak akan pernah melupakan kebaikanmu, tapi sahabat tak akan pernah mengingat kejahatanmu.

Orang sukses tak pernah melupakan orang orang tempatnya berbagi canda, berbagi derita juga cerita, merekalah teman dan sahabatmu.

“Waktu adalah Hal yang aneh sekali,Bagimana dia bisa memisahkan kita dari kita dimasa lalu” by Ayu Utami

Hubertus Basri

Pesan Gus Dur Untuk Guru,Dalam Minum “KOPI” Ada 3 Unsur(Kopi,Gula dan Rasa)

Gambar ilustrasi kopi oleh penulis

Lenangneros.home.blog || Kopi adalah orang tua,Gula adalah Guru,Rasa adalah Siswa
Jika kopi terlalu pahit siapa yang salah….?

Gulahlah yang disalahkan karna terlalu sedikit,hinggah rasa kopi menjadi pahit !

Jika kopi terlalu manis,siapa yang disalahkan…??

Gula pula yang disalahkan karna terlalu banyak,hinggah rasa kopi menjadi manis !

Jika takaran kopi dan gula seimbang, sehingga rasa yang tercecap menjadi nikmat,
siapa yang di puji..??

Tentu semua akan berkata :
Kopinya Mantap !

Kemana Gula..?
Dimana Gula..?

Yang Mempunyai andil membuat rasa  kopi menjadi mantap !

Itulah guru yang ketika rasa terlalu manis,maka dia akan dipersalahkan

itulah guru ketika rasa terlalu pahit, maka dia pula yang dipojokan

Tetapi ketika rasa mantap,ketika siswa prestasi,
maka orangtualah yang menepuk dadanya: “Anak siapa dulu”.

mari iklas seperti gula yang larut tak terlihat tetapi sangat bermakna.

Gula pasir memberi rasa manis pada kopi,tapi orang menyebutnya kopi manis, bukan kopi gula

gula pasir memberi rasa manis pada teh,tetapi orang menyebutnya teh manis,bukan teh gula.

Orang menyebut roti manis,bukan roti gula

tapi gula tetap ikhlas larut dalam memberi rasa manis
akan tetapi apabila berhubungan dengan penyakit,barulah gula disebut, penyakit gula..!

Begitulah hidup
kadang kebaikan yang kita tanam tak pernah disebut orang,tapi sedikit saja kilaf salah dilakukanya,maka akan dibesar-besarkan !!

Ikhlaslah seperti Gula
larutlah seperti Gula
tetap semangat memberikan kebaikan dan tetap semangat menyebarkan kebaikan.

Teruslah berjuang guruku….
hari ini Kamu pasti semangat
apapun orang katakan,kamu tetaplah seorang guru.(*)

Hubertus Basri,S.Pd

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai